Penulis: Fayyaza Z

Ada pemandangan yang cukup ramai di kawasan Bundaran HI, Jakarta. Bukan konser, bukan pula demo buruh, melainkan sekumpulan mahasiswa bernuansa merah yang menenteng poster bertuliskan “Reject Vape Fair?” dan “Say NO to Vaping“.
Mereka datang untuk satu hal dengan menyuarakan penolakan terhadap rokok dan vape yang menurut mereka, sudah terlalu jauh mengepung generasi muda.
Aksi ini digagas oleh ISMKMI (Ikatan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia) Daerah Jakarta Raya, dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2025.
Aini, Koordinator Daerah ISMKMI Jakarta Raya, menjelaskan alasan di balik keterlibatan dalam aksi ini. “Kami turun ke Bundaran HI untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia sekaligus menyuarakan bahaya rokok dan vape yang selama ini masih dianggap sepele,” ujarnya.
Ia menambahkan, aksi ini juga menjadi bentuk upaya pencegahan agar semakin banyak anak muda tidak terjerumus menjadi perokok. “Kalau bukan kita yang bersuara dari sekarang, generasi muda akan terus jadi sasaran empuk industri rokok dan vape,” katanya.
Bukan sekadar seremoni tahunan, aksi ini menjadi semacam jawaban atas persoalan yang sebetulnya jauh lebih dekat, yaitu kebiasaan merokok yang masih lumrah ditemui bahkan di lingkungan yang mestinya paling akrab dengan edukasi kesehatan: kampus.
Sebagai koalisi mahasiswa kesehatan masyarakat se-Jakarta Raya, ISMKMI tidak asing dengan persoalan pengendalian tembakau. Isu ini bukan sekadar bahan diskusi di ruang kelas, melainkan sesuatu yang mereka temui juga di lingkungan kampus masing-masing yang paham betul bahaya rokok pun kerap terjadi pada penikmatnya sendiri.
Dari keresahan semacam itulah aksi ini bermula. Alih-alih hanya membahasnya lewat kajian dan seminar, ISMKMI Jakarta Raya memilih membawa persoalan itu keluar dari ruang diskusi, turun ke salah satu titik paling ramai di ibu kota.
Bundaran HI dipilih bukan tanpa alasan, sebagai simbol ruang publik yang paling banyak dilalui dan dilihat orang, tempat yang paling pas untuk sebuah pesan yang ingin didengar lebih luas, tidak berhenti pada tembok kampus.
Racun yang Dibungkus Cantik
Poster-poster yang dibawa peserta aksi bukan sekadar slogan penolakan biasa. Salah satu yang paling mencolok bertuliskan “Racun Penyakit Dibungkus Cantik”, disertai ilustrasi rokok rasa stroberi yang dikemas semenarik permen.
Pesannya jelas: industri rokok dan vape hari ini semakin lihai mengemas produk berbahaya dalam rupa yang jauh dari kesan mengancam, dengan rasa dan warna yang justru menyasar selera anak muda.
Di balik kemasan manis itu, vape sesungguhnya menyimpan bahaya yang tidak kalah serius dari rokok konvensional. Cairan vape mengandung nikotin, zat adiktif yang membuat penggunanya sulit berhenti begitu mulai ketergantungan, bahkan pada kadar yang kerap tidak disadari pengguna karena tersamar oleh rasa manis dan aromanya.
Selain nikotin, proses pemanasan cairan vape juga menghasilkan berbagai senyawa kimia lain, termasuk logam berat dari elemen pemanas dan senyawa karbonil yang berbentuk saat cairan dipanaskan, yang juga berpotensi merusak saluran pernapasan dalam jangka panjang.
Yang membuat persoalan ini makin runyam adalah sasaran pemasarannya. Rasa-rasa manis seperti stroberi, mangga, atau permen kapas bukan kebetulan, melainkan strategi yang dirancang untuk menurunkan kesan berbahaya di mata calon penggunanya.
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 oleh Kementerian Kesehatan mencatat jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai sekitar 70 juta orang, dengan kelompok usia 15-19 tahun menjadi penyumbang terbesar (56,5%), disusul usia 10-14 tahun (18,4%).
Sementara itu, data Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021 mencatat prevalensi penggunaan rokok elektrik naik lebih dari sepuluh kali lipat dalam dua tahun, dari 0,3% pada 2019 menjadi 3% pada 2021, dan Global Youth Tobacco Survey (GYTS) turut mencatat kenaikan perokok pelajar usia 13-15 tahun dari 18,3% (2016) menjadi 19,2% (2019).
Angka-angka ini memperlihatkan bahwa kekhawatiran mahasiswa terhadap sasaran industri rokok dan vape pada generasi muda bukan sekadar persepsi, melainkan tren yang terekam dalam data. Poster lain bertuliskan “Industri Rokok, Ahli Menyamar, Tipuannya Mengakar”, lengkap dengan ilustrasi wajah bertopeng, seolah menegaskan bahwa di balik kemasan yang tampak ramah itu, ada strategi pemasaran yang dirancang matang untuk membuat generasi muda terus bergantung, sementara risikonya terus ditutupi rapat-rapat di balik topeng yang sama.

Semangat yang dibawa ke Bundaran HI hari itu terdengar lantang. Tapi semangat yang lantang di ruang publik tidak otomatis selesai begitu peserta aksi kembali ke kampus masing-masing.
Poster “Say No to Vaping” dan “Banned Vaping in This Country” yang diusung dengan percaya diri di tengah kerumunan, pada akhirnya harus berhadapan dengan kenyataan yang jauh lebih sepi: sudut-sudut kampus yang masih membiarkan batang-batang rokok menyala tanpa ada yang menegur, tanpa rambu, tanpa aturan yang benar-benar ditegakkan.
Di titik inilah letak persoalan yang sesungguhnya. Aksi seperti ini penting sebagai pengingat dan tekanan publik, tetapi ia bekerja dari luar, sementara kebiasaan merokok yang sudah mengakar sejak sebelum seseorang mengenal kampus justru tumbuh dari dalam.
Menolak di Jalanan, Menghadapi Kenyataan
Kampanye di jalanan bisa menyuarakan penolakan sekeras apapun, tapi ia belum tentu sampai menembus kebiasaan personal yang sudah lama terbentuk, apalagi jika lingkungan kampus sendiri tidak ikut menegakkan apa yang diserukan.
Aksi #SaveOurGeneration menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap isu pengendalian tembakau di kalangan mahasiswa kesehatan masyarakat itu nyata, bukan sekadar wacana di atas kertas.
ISMKMI Jakarta Raya berhasil membawa persoalan yang tadinya terasa personal dan tersembunyi di sudut-sudut kampus, menjadi suara kolektif yang didengar banyak orang di ruang publik. Tapi sebuah aksi, sekeras apapun disuarakan, pada akhirnya hanya menjadi titik awal.
Pekerjaan yang jauh lebih berat justru menanti setelah poster diturunkan dan peserta aksi kembali ke rutinitas masing-masing: bagaimana suara yang sama itu bisa terus bergema sampai ke area-area sepi di lingkungan kampus, tempat rokok masih bisa menyala tenang tanpa ada satu pun yang menegur.
Pada akhirnya, #SaveOurGeneration bukan sekadar aksi satu hari di Bundaran HI. Ia adalah pengingat bahwa perang melawan rokok dan vape tidak selesai begitu poster diturunkan dan massa membubarkan diri. Selama industri terus mengemas racun dengan rupa yang menggoda dan kampus belum sepenuhnya menegakkan apa yang disuarakan di jalanan, generasi muda akan terus berada di titik rawan, terjepit antara pesan yang lantang di ruang publik dan kebiasaan yang diam-diam masih dibiarkan tumbuh di sudut-sudut yang jarang dilihat.
