Penulis : Rofiqoh Qurotun Nuraini I 27 Agustus 2026

JEMBER – Berbeda dengan tanaman pangan yang memiliki standar harga relatif stabil, bertani tembakau di Kabupaten Jember ibarat bertaruh di meja spekulasi. Wilayah seperti Arjasa, Kalisat, Sukowono, hingga Mumbulsari misalnya, tersohor sebagai basis pertembakauan unggulan menurut data dari BeritaJatim. Namun di tingkat tapak, petani kecil harus berjuang sendirian melawan ketidakpastian harga pasar.
Lek Aan, begitu orang-orang akrab memanggil narasumber kami, seorang pemilik lahan sekaligus petani tembakau di daerah Wuluhan, Jember. Beliau mengungkapkan bahwa biaya operasional tembakau tergolong tinggi. Untuk mengolah lahan saja, modal yang dikeluarkan tidak bisa kurang dari Rp20 juta.
“Kalau tanaman pangan harganya jelas dan standar. Beda dengan tembakau yang murni spekulasi; kadang naik, kadang turun,” tuturnya.
Kenalan dengan Jenis Tembakau
Besarnya modal dan fluktuasi harga ini juga dipengaruhi oleh jenis tembakau yang ditanam. Di wilayah Jember dan sekitarnya, terdapat tiga jenis tembakau utama yang memiliki karakteristik pengolahan, target pasar, serta nilai ekonomi yang berbeda.
Yang pertama, Na-Oogst, yaitu tembakau kelas atas dengan harga jual tertinggi, mencapai +Rp10 juta/kwintal. Sistem pengeringannya menggunakan api di dalam gudang khusus serta mampu dipetik hingga 20 lembar daun per pohon. Tembakau ini diproyeksikan sebagai bahan pembalut (wrapper) cerutu untuk pasar ekspor ke Jerman.
Yang kedua, Kasturi, yaitu tembakau yang ditargetkan untuk menyuplai pabrikan rokok lokal ternama. Proses pengeringannya lebih mengandalkan penjemuran di bawah sinar matahari langsung dengan hasil pemetikan paling banyak 15 lembar daun. Di pasaran, harganya berada di kisaran Rp5 juta/kwintal.
Yang terakhir, Rajang, yaitu jenis tembakau yang hasil panennya dijual di pasar umum lokal (lebih mendominasi di wilayah Jember Utama dan Tengah). Tahap pengolahannya tergolong lebih rumit dan menyerap banyak tenaga kerja, namun nilai jualnya masih berada di bawah tembakau jenis Na-Oogst.
Tengkulak Penentu Nasib Harga Tembakau
Di tingkat petani, tingginya modal tersebut makin berisiko karena penentuan harga sepenuhnya berada di tangan tengkulak. Tanpa ada adanya kontrak kemitraan dengan gudang, sejak awal, petani berada pada posisi tawar yang lemah. Lek Aan pun mengaku bahwa beliau kerap berpindah-pindah tengkulak demi mencari penawaran tertinggi, di samping pernah beberapa kali dibohongi hingga pernah mendapat harga merosot sampai 50% dari estimasi awal.
Menjaga Upah Buruh di Tengah Kerugian
Meski sering dihantam harga anjlok dari tengkulak, Lek Aan tetap memegang komitmen sosial terhadap pekerja yang merupakan warga lokal Wuluhan. Untuk menggarap lahan satu hektar, beliau mempekerjakan sekitar 10 orang warga lokal, di mana beberapa orang di dalamnya juga ikut menangani proses pengeringan di gudang bersama pekerja khusus. Para pekerja ini diupah Rp80.000 per hari di luar fasilitas konsumsi, dengan jam kerja mulai pagi hingga jam 10.00, dilanjutkan pukul 13.00 hingga 17.00 WIB.
“Mau musim buruk atau harga dari tengkulak anjlok, upah pekerja tidak boleh kurang dari Rp80.000 sehari,” tegasnya.
Realitas Bantuan di Lapangan
Di tengah besarnya risiko produksi dan fluktuasi harga pasar, dukungan yang dirasakan petani di tingkat tapak masih sangat terbatas. Bantuan pemerintah yang sejauh ini diterima hanya berupa subsidi sarana produksi, yang pada kenyataannya tetap harus ditebus dengan uang tunai oleh petani. Tanpa adanya skema perlindungan harga minimum dan pendampingan pasar yang adil dari pemerintah, petani akar rumput di Jember akan terus menjadi pihak yang paling rentan tertembak oleh permainan harga tengkulak, meski produk tembakau yang mereka hasilkan menyokong industri hingga pasar internasional. Inilah mengapa petani kecil tampaknya harus terus berjuang sendirian.
