Studi ini menganalisis dampak reformasi sistem cukai rokok di Indonesia yang saat ini terdiri dari delapan lapisan, di mana kesenjangan harga mendorong praktik downtrading dan melemahkan tujuan fiskal serta kesehatan. Menggunakan model simulasi Tobacconomics (Johns Hopkins University), empat skenario untuk periode 2025–2027 dibandingkan, termasuk kenaikan cukai dengan dan tanpa penyederhanaan struktur. Hasilnya menunjukkan bahwa seluruh skenario reformasi lebih efektif dibandingkan status quo, dengan skenario terbaik kenaikan cukai disertai penyederhanaan lapisan rokok buatan tangan mampu meningkatkan penerimaan hingga 31% (±Rp60 triliun), menurunkan konsumsi 16% (±51 miliar batang), menekan prevalensi merokok dewasa 1,6%, serta mencegah sekitar 292.324 kematian dini. Temuan ini menegaskan pentingnya kombinasi kenaikan tarif dan simplifikasi struktur cukai untuk memaksimalkan dampak fiskal dan kesehatan.
Penulis: Muhammad Zulfiqar Firdaus; Fariza Zahra Kamilah; Beladenta Amalia; Aufia Espressivo; I Dewa Gede Karma Wisana.

