Resiliensi Kesejahteraan Petani melaluiOptimalisasi Diversifikasi Tanam: Studi KasusPetani Tembakau di Kabupaten Temanggun

Petani tembakau yang kurang sejahtera menjadi isu global, terutama di negara-negara berkembang. Indonesia menjadi negara dengan petani tembakau terbanyak di dunia setelah China (Lenchuca et al., 2022). Di Indonesia, petani yang menanam tembakau saja terbukti mengalami penurunan penghasilan dibandingkan dengan petani yang menanam nontembakau (Sahadewo et al., 2021). Misalnya di Lombok, keuntungan petani mitra hanya sebesar Rp3.975.379 per hektar per musim tanam, atau Rp795.075 per bulan. Keuntungan semakin kecil ketika petani tidak bermitra dan luas lahan tembakau semakin rendah (Nurjihadi et al., 2016). Cara untuk meningkatkan
penghasilan petani dengan meningkatkan produktivitas lahan, salah satunya melalui diversifikasi tanam. Peningkatan keanekaragaman lahan pertanian tembakau dengan tumpang sari jagung, tebu, kentang, gandum, dan kacang panjang dapat meningkatkan hasil panen hingga 85,7% (Mango et al., 2018). Selain itu, diversifikasi tanam semakin berperan penting sebagai strategi menghadapi perubahan iklim, meningkatkan ketahanan pertanian, mitigasi risiko, dan meningkatkan stabilitas pendapatan terutama pada sektor petani kecil (Ahsan et al., 2022; Kujawska, 2021)

Baca Selengkapnya..


This will close in 600 seconds

Konsultasi Klinik Hukum
Tutup
Scroll to Top
Aktifkan Notifikasi ProTC OK Tidak