Penulis: Abdul Waffaril Aziz (Universitas Islam Jember)

JEMBER – Kebiasaan merokok masih menjadi ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat, tidak hanya bagi perokok aktif tetapi juga mereka yang terpapar asap rokok.
Paparan zat berbahaya dari rokok dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit dan mengganggu kesehatan orang di sekitarnya.
“Dampak penggunaan rokok sangat membahayakan kesehatan tubuh, bukan hanya bagi orang yang mengonsumsinya, tetapi juga bagi para perokok pasif,” ujar Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Islam Jember (UIJ), Dewi Rahmawati, saat diwawancarai, Jumat (28/8).
Dia menjelaskan, rokok mengandung nikotin dan berbagai zat berbahaya yang dapat memperparah kondisi kesehatan serta memicu penyakit serius.
Risiko tersebut di antaranya kanker, tekanan darah tinggi, hingga penyakit jantung.
“Penyakit yang bisa diperparah akibat rokok seperti kanker, darah tinggi, dan jantung, serta masih banyak risiko lainnya apabila kita mengonsumsi rokok. Rokok tidak memiliki manfaat bagi kesehatan diri sendiri,” jelasnya.
Menurutnya, ancaman rokok juga mengintai perokok pasif yang secara tidak langsung menghirup asap dari orang lain. Asap rokok yang masuk melalui saluran pernapasan dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan orang di sekitar perokok.
“Asap rokok tersebut lebih berbahaya karena terhirup melalui saluran pernapasan oleh para perokok pasif,” ucapannya.
Karena itu, kata dia, pengendalian rokok tidak cukup hanya menyasar perokok aktif. Kesadaran bersama di perlukan untuk menciptakan kawasan tanpa rokok, termasuk di lingkungan pelayanan kesehatan.
“Cara tenaga kesehatan membantu masyarakat supaya terhindar dari rokok harus dimulai dari kesadaran penuh, baik dari nakes maupun non-nakes,” katanya.
Perempuan yang akrab disapa Dewi itu menuturkan, edukasi berhenti merokok akan sulit dilakukan jika tenaga kesehatan sendiri masih merokok. Karena itu, kesadaran harus dimulai dari lingkungan tenaga kesehatan.
“Akan percuma apabila belum memiliki kesadaran penuh, karena masih ada juga tenaga kesehatan yang merokok,” tuturnya.
Di sisi lain, kebiasaan merokok masih sulit dihentikan karena dipengaruhi lingkungan dan pergaulan. Dani, seorang perokok aktif, mengaku mulai mengenal rokok sejak remaja karena melihat teman-temannya merokok.
“Awalnya karena pengaruh lingkungan dan pergaulan. Setelah terbiasa, saya merasa sulit untuk mengurangi atau berhenti,” ungkap dia.
Ia mengaku sering merokok saat berkumpul dengan teman, setelah makan, atau ketika banyak pikiran. Kebiasaan itu membuatnya sulit mengurangi konsumsi rokok.
“Saya biasanya merokok ketika sedang berkumpul dengan teman, setelah makan, atau ketika sedang banyak pikiran,” bebernya.
Pria asal kecamatan Mayang Desa Sidomukti itu mengaku sadar bahwa merokok dapat mengganggu kesehatan dirinya dan orang di sekitarnya. Lanjut dia dukungan keluarga dan lingkungan penting untuk membantu mengurangi hingga berhenti merokok. “Lebih baik menjaga kesehatan sejak awal daripada harus mengalami kesulitan untuk berhenti setelah terbiasa,” pungkas mahasiswa semester tiga tersebut.
