
Dalam podcast Teman Makan Siang yang direkam pada 17 Juli 2026 di kawasan Tebet, M. Rifqi, seorang penyintas tuberkulosis (TB), membagikan kisah perjalanan hidupnya sejak awal mengalami sakit hingga proses pemulihan yang ia jalani.
Rifqi menceritakan bahwa kondisi kesehatannya banyak dipengaruhi oleh gaya hidup dan lingkungan kerja, seperti kebiasaan merokok, sering begadang, bekerja di proyek, serta jauhnya jarak dengan keluarga. Menurutnya, hal-hal tersebut perlahan menurunkan daya tahan tubuh hingga akhirnya jatuh sakit. “Gaya hidup kerja di proyek, suka begadang malam, dari situ mungkin imun tubuh turun,” ujarnya.
Namun, di balik proses sakit yang ia alami, Rifqi juga menghadapi tekanan besar dalam kehidupannya. Ia kehilangan pekerjaan secara sepihak karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan untuk bekerja, sehingga tidak bisa lagi beraktivitas seperti biasa. Situasi tersebut membuatnya mengalami stres hingga depresi. “Saya diputus secara sepihak sama perusahaan… enggak bisa aktivitas dan benar-benar depresi,” ungkapnya.
Selain beban fisik dan ekonomi, ia juga menyoroti masih kuatnya stigma di masyarakat terhadap pasien TB. Menurutnya, banyak orang masih salah paham, seperti menganggap TB menular melalui alat makan. Padahal, penularan TB sebenarnya terjadi melalui udara, bukan dari benda yang sudah dicuci bersih. “Stigma itu masih kental kayak jangan satu alat makan, nanti nular,” katanya.
Di tengah kondisi yang berat tersebut, dukungan keluarga menjadi hal yang sangat berarti dalam proses pemulihannya. Rifqi mengaku sangat terbantu dengan kehadiran istrinya yang selalu mendampingi selama masa pengobatan. “Istri saya sangat support, tiap hari nanyain kondisi saya, tidak pernah ninggalin,” ujarnya.
Setelah menjalani pengobatan yang panjang, Rifqi akhirnya berhasil sembuh dari TB. Ia merasa bangga karena mampu melewati masa-masa sulit tersebut meskipun penuh tantangan fisik, mental, dan sosial. “Saya buktiin kalau saya bisa sembuh dari TB,” katanya.
Dari pengalamannya, Rifqi berharap masyarakat dapat lebih memahami TB secara benar serta mengurangi stigma terhadap pasien. Menurutnya, dukungan lingkungan sangat penting agar pasien TB tidak merasa sendirian dalam proses penyembuhan.
Untuk mendengar cerita lengkap, refleksi pribadi, dan perjalanan penyembuhannya secara lebih mendalam, simak perbincangan tersebut di video podcast Teman Makan Siang.
