Wacana pelarangan vape kembali menguat setelah Badan Narkotika Nasional menyoroti meningkatnya potensi penyalahgunaan zat adiktif dalam bentuk cair. Vape yang selama ini dikenal luas sebagai produk konsumsi nikotin kini berkembang menjadi medium baru untuk mengonsumsi zat berbahaya, termasuk obat-obatan yang seharusnya hanya digunakan dalam pengawasan medis. Kekhawatiran ini tidak berlebihan, karena tanpa regulasi yang tegas, celah tersebut dapat memperluas akses adiksi, terutama di kalangan generasi muda yang menjadi kelompok paling rentan.
Persoalan nikotin dan narkoba cair tidak lagi bisa dipandang sebagai pilihan individu semata, melainkan sudah menjadi isu kesehatan masyarakat yang berdampak luas. Berbagai negara telah menunjukkan bahwa pengendalian ketat mampu melindungi generasi produktif dari jerat kecanduan. Vietnam mengambil langkah tegas dengan melarang vape untuk mencegah lonjakan penggunaan di kalangan muda, sementara Singapura konsisten menerapkan regulasi ketat demi menjaga kualitas sumber daya manusianya. Kebijakan preventif seperti ini pada dasarnya merupakan investasi jangka panjang untuk memastikan kesehatan publik tetap terjaga.
Kekhawatiran tersebut semakin relevan ketika melihat praktik di lapangan. Dalam podcast Teman Makan Siang pada tanggal 6 Mei 2026, dokter Adhi Wibowo, Spesialis Kedokteran Jiwa dan Konsultan Psikiatri Adiksi, yang praktik di RS triadipa Tebet membagikan pengalaman klinisnya menangani pasien yang menyalahgunakan etomidate, yaitu obat anestesi yang seharusnya digunakan secara medis dalam tindakan tertentu di rumah sakit, melalui vape. Ia mengungkapkan, “Awalnya pasien hanya ingin merasa lebih tenang karena tekanan kerja, tapi yang terjadi justru perubahan perilaku yang sangat drastis.” Pasien tersebut kemudian mengalami gangguan serius seperti emosi tidak stabil, kehilangan motivasi, hingga halusinasi dan paranoia yang mengarah pada gangguan psikotik akibat penyalahgunaan zat.
Dr. Adhi juga menekankan bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada proses pengobatan, tetapi pada akses terhadap zat tersebut yang masih terbuka. Ia menjelaskan, “Kami sempat melihat perbaikan, tetapi pasien kembali kambuh karena masih bisa mendapatkan zat itu. Ketika akses tidak dikendalikan, proses pemulihan menjadi jauh lebih sulit.” Kasus ini menjadi pengingat bahwa adiksi tidak hanya merusak individu, tetapi juga mengguncang keluarga dan lingkungan sosial. Karena itu, penguatan regulasi termasuk mempertimbangkan pelarangan vape bukan sekadar wacana, melainkan langkah preventif yang mendesak demi melindungi masa depan kesehatan bangsa.
Video selengkapnya

