Rokok Hampir Jadi Batang Terakhirnya: Kisah Achmad Junaidi Pilih Berhenti

Penulis: Abilsyah Achmad Romdoni

“Merokok itu enak. Seandainya tidak usah makan, yang penting merokok itu sudah cukup.”

Bertahun-tahun lalu, kalimat itu bukan sekadar ucapan bagi Achmad Junaidi. Rokok pernah menjadi bagian penting dalam kesehariannya. Bahkan, bagi pria yang kini berusia 46 tahun itu, rokok pernah terasa lebih dari sekadar kebiasaan.

Kisah itu diceritakan Achmad saat ditemui di kediamannya di Desa Kalitapen, Bondowoso, pada 25 Agustus 2026. Di tempat yang menjadi bagian dari kesehariannya itu, ia kembali mengingat perjalanan panjang yang pernah dilaluinya bersama rokok, dari pertama kali mencoba saat remaja hingga akhirnya memutuskan berhenti.

Semuanya bermula sejak 1993, ketika Achmad masih duduk di kelas satu SMP. Ia mencoba rokok karena mengikuti teman-temannya.

“Saya mencoba merokok pada saat itu kelas satu SMP tahun 1993 dikarenakan ikut teman-teman,” ujar Achmad.

Tidak ada yang istimewa dari awal cerita tersebut. Hanya seorang anak sekolah yang mengikuti kebiasaan lingkungan pertemanannya. Namun, sesuatu yang dimulai dari rasa penasaran perlahan berubah menjadi kebiasaan yang melekat selama bertahun-tahun.

Achmad kemudian tumbuh menjadi perokok aktif. Dalam sehari, ia dapat menghabiskan sekitar satu setengah bungkus atau 20 batang rokok.

Saat itu, rokok terasa begitu nikmat. Ia bahkan pernah menganggap rokok mampu menggantikan makanan.

Tidak pernah terpikir olehnya bahwa kebiasaan yang dahulu dianggap sebagai teman itu suatu hari justru akan membawanya berhadapan dengan kondisi kesehatan yang berat.

Ketika Tubuh Mulai Memberi Peringatan

Titik balik itu datang pada September 2007.

Achmad menderita tuberkulosis atau TBC. Batuk yang dialaminya bukan lagi sekadar gangguan biasa. Kondisinya memburuk hingga ia mengalami batuk berdarah.

Ia harus menjalani pengobatan selama enam bulan dan sempat menjalani rawat inap selama 12 hari.

“Saya dulu pernah menderita penyakit TBC yang mengharuskan menjalani pengobatan selama enam bulan,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, dokter menyarankan Achmad untuk berhenti merokok secara total.

Nasihat itu terdengar sederhana. Tetapi bagi seseorang yang telah merokok sejak 1993, meninggalkan rokok ternyata bukan perkara mudah.

Tubuhnya sedang berusaha pulih, sementara kebiasaan lama masih menariknya kembali.

Dua Batang yang Membuka Jalan Lama

Setelah kondisinya mulai membaik pada Mei 2008, Achmad kembali mencoba merokok.

Hanya dua batang.

Namun, dua batang itu ternyata cukup untuk membuka kembali pintu menuju kebiasaan lama.

“Pada saat sakit saya menjalani rawat inap selama 12 hari dan juga sempat dapat nasihat dari dokter pada waktu itu agar berhenti total. Tapi namanya perokok berat tidak bisa langsung berhenti. Setelah satu minggu saya mencoba merokok lagi dua batang,” katanya.

Tidak lama setelah kembali merokok, sakit kembali terasa. Batuk berdarah muncul lagi.

Tubuhnya seperti sedang memberikan peringatan untuk kedua kalinya.

Kali ini, rokok tidak lagi hanya berbicara tentang kenikmatan. Ada kesehatan yang dipertaruhkan.

Ketika Keluarga Ikut Menjadi Alasan

Di titik tersebut, alasan Achmad untuk berhenti mulai berubah.

Ia tidak hanya memikirkan kondisi tubuhnya sendiri. Ia mulai memikirkan keluarga, paparan asap rokok, sekaligus pengeluaran rumah tangga.

“Saya mencoba berhenti merokok selain terkena penyakit TBC, saya juga memikirkan keluarga agar tidak terpapar asap rokok serta menghemat uang agar tidak membeli rokok,” ujarnya.

Di rumah, ada Anggra Sisaini, 51 tahun, istrinya, yang ikut menyaksikan perjuangan tersebut.

Anggra mengaku terkejut sekaligus emosi ketika mengetahui Achmad kembali merokok pada Mei 2008. Kekhawatirannya bukan hanya terhadap kesehatan suaminya, tetapi juga terhadap dirinya dan orang-orang di sekitar yang dapat terpapar asap rokok.

“Awalnya saya kaget sekaligus emosi mengetahui suami saya merokok lagi, soalnya itu nggak bagus, apalagi asapnya bisa terpapar ke orang yang tidak merokok,” ujar Anggra.

Bagi Anggra, persoalan rokok juga berkaitan dengan kehidupan rumah tangga.

Uang yang setiap hari digunakan untuk membeli rokok, menurutnya, akan lebih bermanfaat jika dialihkan untuk kebutuhan keluarga.

“Rokok itu selain merusak kesehatan juga membuat pengeluaran jadi bertambah, lebih baik uang rokok itu dibuat anggaran belanja,” katanya.

Camilan, Permen, hingga Ultimatum

Anggra kemudian mencoba berbagai cara agar Achmad benar-benar berhenti.

Ketika keinginan merokok muncul, ia memberikan camilan dan permen sebagai pengganti. Ia juga berusaha memberikan arahan secara perlahan.

“Saya menggunakan segala cara untuk membuat suami saya berhenti merokok sampai saya sempat marah, akan tetapi perlahan saya beri arahan secara halus,” tuturnya.

Namun, perjalanan menuju berhenti total tidak selalu berjalan mulus.

Achmad kembali merokok secara diam-diam pada Mei 2008. Anggra mengetahui hal itu setelah melihat suaminya kembali mengalami batuk hingga berdarah dan mencium bau asap rokok dari napasnya.

Kesabaran Anggra akhirnya sampai pada batas terakhir.

“Saya mengalami kesulitan saat proses suami saya berhenti merokok karena di saat saya mulai menggantinya dengan camilan maupun permen, suami saya mencoba rokok lagi di belakang saya hingga batuk berdarah lagi. Saya langsung mengancamnya dengan memberi pilihan antara rokok atau hubungan kami. Itu adalah solusi terakhir saya,” ujarnya.

Ultimatum itu menjadi salah satu titik paling berat dalam perjalanan mereka.

Achmad sedang berhadapan dengan kebiasaan yang telah menemaninya sejak remaja. Sementara di sisi lain, ada keluarga yang tidak ingin kehilangan dirinya.

Berhenti merokok akhirnya bukan lagi sekadar persoalan membuang sebatang rokok. Ia harus memilih kehidupan yang ingin dipertahankan.

Februari 2009, Asap Itu Benar-Benar Berhenti

Setelah melalui proses panjang, Achmad akhirnya benar-benar berhenti merokok pada Februari 2009.

Keputusan tersebut tidak serta-merta membuat semua godaan menghilang. Keinginan merokok masih muncul, terutama ketika ia melihat orang lain merokok atau setelah makan.

Momen-momen yang dahulu selalu diakhiri dengan sebatang rokok kini harus dilewati tanpa asap.

“Awalnya saya ragu untuk berhenti merokok, dikarenakan untuk berhenti itu tidak bisa langsung berhenti sekaligus, apalagi ada orang sedang merokok di dekat saya,” ujar Achmad.

Namun, perlahan ia mulai terbiasa.

Ia mulai merasakan perubahan pada tubuhnya. Napasnya menjadi lebih teratur. Berjalan jauh yang dahulu membuatnya mudah sesak kini terasa lebih ringan.

“Perubahan pada diri saya yaitu hidup lebih sehat dan napas jadi teratur. Tidak seperti dulu saat aktif merokok, saya tidak bisa jalan jauh dikarenakan mudah sesak napas,” katanya.

Bagi sebagian orang, kemampuan berjalan jauh tanpa mudah terengah-engah mungkin terdengar sederhana.

Bagi Achmad, itu adalah sesuatu yang berharga.

Ia seperti mendapatkan kembali bagian dari hidup yang dahulu perlahan hilang.

Rumah yang Kembali Menghirup Udara Segar

Perubahan itu juga dirasakan Anggra.

Setelah Achmad benar-benar berhenti merokok, udara di sekitar rumah terasa lebih segar. Tidak ada lagi kepulan asap yang memenuhi ruang.

Ia juga melihat kondisi suaminya perlahan membaik.

“Saya merasa udara di sekitar saya terasa segar, saya melihat suami saya sudah membaik,” ujarnya.

Bukan hanya udara dan kesehatan yang berubah. Pengeluaran keluarga pun menjadi lebih terkendali.

Uang yang sebelumnya digunakan untuk membeli rokok tidak lagi keluar untuk kebiasaan tersebut.

Bagi Anggra, perubahan itu menghadirkan rasa lega sekaligus syukur.

“Saya sangat bersyukur setelah mengetahui suami saya berhenti merokok total,” katanya.

Memilih Tarikan Napas untuk Hari Esok

Perjalanan Achmad menunjukkan bahwa berhenti merokok bukan sekadar persoalan memiliki niat.

Ada kebiasaan puluhan tahun yang harus dilawan. Ada lingkungan yang dapat memicu keinginan untuk kembali merokok. Ada rutinitas setelah makan yang harus diubah. Ada pula godaan yang datang tanpa dapat diprediksi.

Achmad pernah berada pada masa ketika rokok terasa begitu penting. Ia pernah menghabiskan sekitar 20 batang dalam sehari. Ia bahkan pernah menganggap rokok begitu nikmat hingga merasa tidak perlu makan selama bisa merokok.

Namun, sakit mengubah cara pandangnya.

Kini, ia memahami bahwa sesuatu yang dahulu dianggap sebagai teman justru dapat membawanya pada kondisi kesehatan yang berat.

Ia tidak ingin orang lain mengalami perjalanan yang sama.

“Sebisa mungkin orang yang merokok, dari saran saya pribadi berhenti merokok. Tapi itu cuma saran, tidak bisa langsung membuat orang berhenti merokok,” ujar Achmad.

Ia tidak berbicara sebagai orang yang merasa paling benar. Ia hanya berbicara dari pengalaman yang pernah dijalaninya sendiri.

Bagi Anggra, mendampingi seseorang untuk berhenti merokok juga membutuhkan kesabaran. Perubahan tidak selalu dapat dipaksakan dalam satu waktu.

“Kalau mau membuat orang berhenti merokok itu secara perlahan, beri segala contoh bukti nyata di sekitarnya akibat rokok. Di samping itu kita juga harus berdoa sebagai pasangan,” pesannya.

Pada akhirnya, kisah Achmad bukan hanya tentang rokok.

Ini adalah cerita tentang sebuah kebiasaan yang dimulai ketika ia masih remaja pada 1993, tumbuh bersamanya selama bertahun-tahun, membawanya menghadapi TBC pada September 2007, sempat membuatnya kembali merokok pada Mei 2008, hingga akhirnya benar-benar ia tinggalkan pada Februari 2009.

Ada sakit yang membuatnya takut. Ada keluarga yang membuatnya bertahan. Ada seorang istri yang tidak berhenti mengingatkan. Ada kegagalan yang sempat membuatnya kembali merokok. Dan ada keputusan yang akhirnya mengubah arah hidupnya.

Rokok yang dahulu menjadi bagian dari kesehariannya kini telah ia tinggalkan.

Bagi Achmad Junaidi, berhenti merokok bukan sekadar membuang sebungkus rokok. Ia sedang memilih sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus jauh lebih berharga, tetap bisa bernapas, tetap bersama keluarga, dan memiliki kesempatan untuk menjalani hari esok. Sebab, terkadang seseorang baru benar-benar memahami harga sebuah tarikan napas setelah pernah merasakan betapa sulitnya bernapas.

Scroll to Top