Nyalakan SOS Tanda Bahaya Hadapi Campur Tangan Industri Rokok

JAKARTA. Dalam rangka Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HHTS) yang diperingati 31 Mei 2024, sejumlah organisasi pemuda dan masyarakat sipil menyuarakan Gerakan Save Our Surroundings (SOS) Save Surroundings pada Minggu (2/5), Gerakan Lindungi Kini Nanti. Gerakan Save Our Surroundings atau disingkat SOS terinspirasi dari bahasa sandi yang menyalakan alarm tanda bahaya.

Manik Marganamahendra, Ketua Umum Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) sebagai salah satu inisiator gerakan SOS di Indonesia menyebutkan, gerakan SOS lahir dari inisiatif anak muda yang bertujuan mengingatkan masyarakat untuk saling jaga.

“SOS juga mendesak pemerintah untuk ikut menghentikan campur tangan industri rokok yang masuk ke semua lini, bahkan mengintervensi (memengaruhi) anak melalui iklan, promosi dan sponsornya,” kata Manik saat deklarasi SOS di ela-sela acara car free day di Jakarta, Minggu (2/5).

Manik menambahkan, konteks SOS adalah bahaya meningkatnya prevalensi anak muda yang teradiksi rokok, bahaya bagi perokok pasif, bahaya dampak buruk rokok terhadap kesehatan, ekonomi dan lingkungan.

Gerakan bersama ini diinisiasi oleh Indonesian Youth Council For Tactical Changes (IYCTC), Komnas Pengendalian Tembakau, Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI), Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI), Forum Warga Kota (FAKTA), Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), Generasi Anti Rokok, dan Yayasan Lentera Anak meluncurkan gerakan ‘SOS: Save Our Surroundings’ Lindungi Kini Nanti.

“Terbukti dengan RPP kesehatan yang hingga hari ini belum disahkan, bahkan berkali-kali kita coba mengadvokasi belum juga masuk dan belum juga disahkan harapan dari masyarakat,” ujar Manik di Taman Dukuh Atas Creative Hub.

Gerakan Save Our Surroundings yang mengusung slogan Lindungi Kini Nanti menegaskan adanya masalah intergenerasional. Artinya, bukan hanya orang-orang yang sakit hari ini akibat konsumsi rokok, tetapi juga generasi masa depan sebagai sumber daya manusia Indonesia.

Ni Made Shellasih, Program Manager IYCTC menambahkan, kebijakan yang sudah ada belum efektif mengurangi prevalensi perokok pada anak dan remaja. Kondisi ini terjadi karena iklan, promosi, dan sponsorship rokok masih sangat masif dan belum terkendali. Selain itu, belum semua daerah menerapkan kawasan tanpa rokok.

“Maka dari itu, dari gerakan Save Our Surroundings ini ingin mengajak masyarakat untuk menyalakan tanda bahaya dan sadar bahwa rokok ini berbahaya tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi lingkungan sekitar,” jelas Ni Made.

Manajer Program Komite Nasional Pengendalian Tembakau, Nina Samidi, menambahkan, dalam 10 tahun terakhir masyarakat tidak mendapatkan perlindungan pemerintah dari intervensi industri rokok.

“Kami mendesak Pemerintah untuk menjawab pertanyaan ke mana keberpihakan Pemerintah saat ini? Kami mempertanyakan komitmen pemerintah terhadap perlindungan kesehatan masyarakat kita karena intervensi industri rokok begitu besar ke pemerintah. Sampai pemerintah sekarang mati kutu di bawah industri rokok,” ujar Nina.

Desakan yang sama juga disampaikan oleh Beladenta Amalia, Project Lead for Tobacco Control, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI). Menurut Bella, gerakan SOS  menunjukkan suatu kedaruratan angka perokok pada anak-anak saat ini sudah sangat tinggi.

Bukan hanya pada dewasa, tetapi anak-anak Indonesia mulai mencoba merokok sejak dini. Melalui gerakan SOS ini, CISDI berperan berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan banyak anak-anak menggunakan rokok batangan rokok akibat harga yang masih sangat murah. Ini menandakan komitmen pemerintah belum terlihat dalam mengendalikan harga rokok secara signifikan.

“Jadi kami sangat mendorong, upaya-upaya pengendalian tembakau dari pemerintah melalui pengesahan RPP Kesehatan supaya anak-anak kita cepat terlindungi, begitupun masyarakat rentan lain, khususnya kaum miskin. Kami juga mendorong harga cukai hasil tembakau terus dinaikkan dengan harga yang signifikan sehingga mereka yang rentan termasuk anak-anak tidak bisa menjangkaunya lagi,” ujar Beladenta.

Gerakan yang sama juga disampaikan oleh kalangan kampus. Risky Kusuma Hartono dari Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI) menyatakan, gerakan SOS mengingatkan lagi masalah stunting yang belum tuntas di Indonesia. Saat ini Indonesia belum sukses menurunkan prevalensi stunting yang ditargetkan 14%. Apabila rokok tidak terkendali, maka akan sulit untuk menurunkan stunting di masa depan.

“Studi dari PKJS UI menemukan bahwa peningkatan 1 persen belanja rokok itu meningkatkan 6 persen kemiskinan. Sehingga rumah tangga miskin apabila terus menerus membelanjakan uang untuk rokok, akan menjerat mereka dalam jurang kemiskinan. Untuk itu dalam Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) kali ini, kami sangat mendorong pemerintah untuk lebih peduli meningkatkan lagi pengendalian tembakau di Indonesia,” terang Risky.


This will close in 600 seconds

Konsultasi Klinik Hukum
Tutup
Scroll to Top
Aktifkan Notifikasi ProTC OK Tidak