Dari Kemerdekaan Menuju Kesejahteraan: Kenaikan Cukai Rokok sebagai InvestasiKesehatan Rakyat dan Kekuatan Fiskal Negara

Jakarta, 14 Agustus 2025 – Menyongsong 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Center of Human and Economic Development (CHED) ITB Ahmad Dahlan Jakarta menekankan pentingnya kebijakan fiskal yang berpihak pada rakyat. Salah satunya adalah kenaikan tarif cukai rokok secara signifikan dan berkelanjutan sebagai strategi ganda: melindungi kesehatan masyarakat dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Dalam momentum perayaan kemerdekaan yang mengusung semangat “Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”, CHED menyerukan langkah konkret dari pemerintah untuk meninggalkan ketergantungan terhadap konsumsi produk berbahaya dan beralih ke paradigma pembangunan yang sehat dan berkelanjutan.

Kepala pusat studi CHED Roosita menegaskan, “Cukai rokok bukan sekadar instrumen fiskal, tetapi senjata kebijakan yang sangat efektif untuk menyelamatkan generasi masa depan dari lingkaran adiksi dan penyakit kronis. Ketika kita bicara tentang kemerdekaan, kita harus bicara tentang kemerdekaan dari adiksi yang merusak. Kesehatan adalah fondasi kemandirian bangsa. Kenaikan cukai rokok adalah bentuk nasionalisme baru—yang berpihak pada rakyat, bukan pada industri yang merugikan publik.”

“Data dan bukti sudah sangat jelas. Konsumsi rokok menurun ketika harga naik. Negara mendapatkan penerimaan tambahan yang bisa digunakan untuk memperkuat sistem kesehatan seperti JKN. Ini adalah kebijakan yang win-win. Tantangan seperti pergeseran konsumsi ke rokok murah dan ancaman rokok ilegal bisa diatasi dengan kebijakan tarif yang terstruktur, pengawasan ketat, serta pemanfaatan teknologi seperti digital stamp.”

“Kami dari CHED mendesak pemerintah untuk berani dan konsisten dalam menaikkan cukai rokok secara proporsional pada tahun 2025. Jangan terjebak pada tekanan industri yang kerap membesar-besarkan dampak negatifnya. Data menunjukkan bahwa pekerja di sektor ini kurang dari 0,5% total tenaga kerja nasional. Kesejahteraan bangsa jauh lebih besar nilainya.”

Roosita menambahkan bahwa di usia ke-80 tahun kemerdekaannya, Indonesia harus berani mengambil langkah besar yang akan menentukan kualitas hidup rakyat di masa depan.

“Merdeka berarti bebas dari adiksi, sehat untuk berkarya, dan mandiri secara fiskal. Inilah bentuk kemerdekaan sejati yang harus kita perjuangkan hari ini.”

Scroll to Top